Site icon inekspos.com

Menjadikan Maulid Ruang Penghayatan, Nur Salim Ismail Lanjutkan Dakwah ke Pasangkayu

Dr. Nur Salim Ismail, M.Si

inekspos.com, Pasamgkayu — Rangkaian dakwah Maulid Nabi Muhammad SAW memasuki pekan keempat. Dr. Nur Salim Ismail, M.Si., dijadwalkan mengisi dakwah di enam masjid yang tersebar di empat kecamatan di Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat, pada 17–20 September 2026.

Dakwah tersebut mencakup Kecamatan Dapurang, Pasangkayu, Sarjo, dan Duripoku. Selain pengajian Maulid, agenda ini juga menjadi momentum silaturahmi dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, dan warga setempat.

Perjalanan dakwah ini menyusuri kawasan yang berdekatan dengan batas antardaerah. Dapurang berada di kawasan yang berdekatan dengan Karossa, Kabupaten Mamuju Tengah, sedangkan Sarjo berada di ujung utara Pasangkayu dan berbatasan dengan Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.

Enam titik dakwah tersebut ialah Masjid Al-Muttaqin Dusun Tagari dan Masjid Al-Muhajirin Desa Tirta Buana, Dapurang, pada 17–18 September; Masjid Jabal Tsur Pasangkayu pada 18 September; Masjid Nurul Hidayah Dusun Pangale dan Masjid Asy-Syadzily Dusun Tangnga-tangnga, Sarjo, pada 19 September; serta Masjid Al-Amin Dusun Papo, Desa Sipakainga, Duripoku, pada 20 September.

Pengasuh Pondok Pesantren Ihyaul Ulum DDI Baruga Majene itu mengatakan, Maulid Nabi perlu menjadi momentum penghayatan dan refleksi, bukan sekadar seremoni tahunan.

“Kita ingin agar peringatan Maulid ini memiliki bobot penghayatan bagi umat Islam, sehingga tidak menjadi seremoni yang terlewatkan begitu saja,” ujar Nur Salim.

Ia menekankan bahwa kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW bukan hanya milik mereka yang merasa telah saleh. Maulid juga harus menjadi ruang bagi mereka yang masih merasa diliputi dosa dan kenistaan untuk menemukan harapan dan jalan kembali.

“Jangan merasa terlalu kotor untuk mencintai Nabi. Jangan pula merasa terlalu jauh untuk kembali. Bisa jadi, kecintaan kepada Rasulullah itulah yang menjadi awal seseorang menemukan jalan pulang kepada Allah,” katanya.

Menurut Nur Salim, perubahan zaman yang berlangsung cepat menuntut pesan agama disampaikan secara mudah, realistis, dan dapat diperpegangi oleh seluruh lapisan masyarakat.

“Dakwah tidak cukup berhenti di atas mimbar. Nilai-nilai kenabian harus hadir dalam kehidupan nyata dan menjawab kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Rangkaian dakwah tersebut merupakan bagian dari agenda Maulid Nabi Muhammad SAW yang telah berlangsung selama beberapa pekan di sejumlah wilayah Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan. (*)

Exit mobile version