Menjadi aktor kerukunan berarti aktif menjaga persatuan dengan menghargai perbedaan dan menolak segala bentuk intoleransi dan radikalisme.
“Dengan sikap saling menghormati, kita bisa menjaga Sulbar tetap damai dan harmonis, sekaligus memperkuat ikatan sosial di masyarakat,” ucap Nursalim.
Dijelaskan, aktor kerukunan bukan hanya tokoh masyarakat atau agama, tapi setiap individu punya tanggung jawab moral untuk melawan paham radikalisme dan terorisme. Dengan menyebarkan nilai toleransi di lingkungan sekitar, aktif berpartisipasi dalam dialog antar kelompok, dan menolak ujaran kebencian, kita membantu mencegah masuknya paham-paham berbahaya yang mengancam keamanan.
“Peran kita penting agar Sulbar tetap menjadi wilayah yang aman dan damai,” sebutnya.
Menurut Nursalim, aktor kerukunan dapat berperan besar dalam pendidikan nilai-nilai toleransi, baik di sekolah, keluarga, maupun komunitas. Selain itu, dengan memanfaatkan media sosial secara positif, semua komponen dapat menyebarkan pesan perdamaian dan menolak konten-konten yang memicu konflik.
Kesadaran dan tanggung jawab setiap aktor kerukunan dalam mengelola informasi dan interaksi sosial dapat memperkuat pertahanan masyarakat Sulbar terhadap paham intoleran dan radikal.
“Aktor kerukunan perlu berkolaborasi dengan pemerintah dan aparat keamanan untuk membangun program-program yang mendukung keberagaman dan menangkal radikalisme. Melalui sinergi ini, langkah-langkah preventif seperti dialog antarumat, pelatihan deradikalisasi, dan pengawasan media sosial dapat berjalan efektif. Sulbar yang damai adalah hasil kerja bersama antara aktor kerukunan dan seluruh elemen masyarakat,” pungkas Nursalim.
Sedangkan Ihsan Al Fatih, Ketua IMM Cabang Mamuju menjelaskan bahwa intoleransi adalah ketidaksediaan untuk menerima perbedaan, baik dalam hal agama, budaya, suku, ras, atau pandangan. Intoleransi sering diwujudkan dalam bentuk ujaran kebencian, diskriminasi, eksklusi sosial, bahkan kekerasan.
Disebutkan, beberapa faktor penyebab intoleransi antara lain, kurangnya pendidikan nilai dan toleransi, hoaks dan propaganda di media sosial, radikalisme dan fanatisme buta, ketimpangan ekonomi dan sosial, minimnya ruang dialog antar kelompok.
Intoleransi tidak hanya merugikan kelompok tertentu, tetapi juga membawa dampak buruk bagi seluruh masyarakat, seperti terganggunya kerukunan antarumat beragama, menurunnya rasa aman dan kepercayaan sosial, terganggunya stabilitas nasional, hilangnya rasa keadilan dan persatuan. (*)