“Kami mengajak masyarakat untuk disiplin melakukan 3M Plus: Menguras, Menutup, dan Mendaur ulang barang bekas, serta mencegah gigitan nyamuk. Mencegah lebih baik daripada mengobati,” kata Nursyamsi.
Sebagai langkah antisipasi, Diskes Sulbar telah melakukan koordinasi dengan lintas sektor, termasuk Dinas Pendidikan, Kanwil Kementerian Agama, rumah sakit, dan puskesmas di seluruh kabupaten/kota.
Setiap sekolah dan pondok pesantren pun mesti mengaktifkan kembali Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) serta rutin melakukan PSN di lingkungan masing-masing.
Selain itu, Diskes Sulbar juga mengingatkan seluruh puskesmas melakukan pemeriksaan jentik berkala, melaporkan setiap kasus DBD dalam waktu 1×24 jam, serta melakukan penyelidikan epidemiologi dan fogging fokus di wilayah yang terdeteksi adanya kasus positif.
Langkah ini sejalan dengan misi Pemprov Sulbar yang dicanangkan oleh Gubernur Sulbar, Suhardi Duka dan Wakil Gubernur Sulbar Salim S Mengga, khususnya dalam membangun Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dan berkarakter.
“Kesehatan adalah fondasi SDM unggul. Kita tidak boleh lengah, karena nyamuk Aedes aegypti tidak mengenal musim. Mari kita jaga lingkungan kita, rumah kita, sekolah kita, agar bebas dari sarang nyamuk. Setiap keluarga adalah garda terdepan melawan DBD,” tegas Nursyamsi.
Masyarakat diharapkan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami gejala DBD seperti demam tinggi mendadak, nyeri otot dan sendi, sakit kepala hebat, atau munculnya bintik-bintik merah pada kulit. (Rls)