Sementara itu, anggaran dari APBN yang telah terserap untuk MBG sebesar Rp8,2 triliun, difokuskan pada intervensi gizi, bukan pembangunan fisik.
Program MBG juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Banyak restoran, kafe, hingga hotel yang kini mengalihkan fungsi dapurnya untuk memasak makanan bergizi bagi penerima manfaat, seperti anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui.
“Satu restoran yang biasanya hanya melayani sekitar 500 pengunjung, kini bisa menyuplai hingga 3.500 porsi makanan setiap hari, tanpa perlu pelanggan datang langsung. Semua makanan dikirim ke sekolah atau rumah penerima,” terang Dadan.
Untuk menjamin kualitas layanan, BGN terus memperketat standar operasional prosedur (SOP), termasuk pemilihan bahan baku, efisiensi waktu masak, penyiapan, hingga pengiriman. “Kami pastikan makanan tidak disimpan lebih dari 4 jam sebelum dikonsumsi,” pungkasnya. (*)