Rindu Menyala di Bulan Kemerdekaan RI: Refleksi Budaya, Persatuan Bangsa, dan yang Lahir di Bulan Agustus

oleh
Oleh : Sjahrir Tamsi

Seniman, Guru, Pemuda Adat, hingga Komunitas Digital kini mengambil bagian dalam membangun “Perayaan Kemerdekaan yang Inklusif dan Kreatif”. Inilah bentuk nasionalisme baru yang tidak kehilangan akar budayanya. Pemerintah dan Masyarakat Adat, sebagai penjaga nilai-nilai luhur, perlu terus berkolaborasi agar perayaan ini tidak kehilangan makna di tengah gempuran budaya luar.

Refleksi: Apa yang Sudah Kita Berikan untuk Negeri Ini?

Kemerdekaan bukanlah sebuah pesta yang dirayakan setahun sekali. Ia adalah “Tanggung Jawab Kolektif” untuk terus mengisi kemerdekaan dengan “Keadilan, Kemajuan, dan Kesejahteraan”. Inilah saatnya kita merenung : “Sudahkah Kita Ikut Memperbaiki Begeri ini, Sekecil apa pun Peran Kita”.?

BACA JUGA:  Sat PJR Dirlantas Polda Sulbar Tebar Semangat Nasionalisme di Jalan Raya Jelang Hari Kemerdekaan RI

Sebagai seorang Penulis yang lahir di bulan Agustus, memaknai ulang tahun pribadi sebagai “Penanda bahwa Usia Boleh Bertambah, tapi Pengabdian tak boleh Berkurang”. Ulang tahun bukan hanya soal usia, tapi soal “Kesetiaan pada Nilai. Oleh karenanya setiap tahun, Penulis menjadikan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI sebagai pemicu untuk terus berbuat sesuatu; Menulis, Mendidik, yang Menginspirasi, dan Menjaga Warisan Budaya Nusantara”.

BACA JUGA:  Era Digital: Suraidah Ajak Masyarakat Sulbar Manfaatkan Teknologi untuk Kemajuan

Menjaga Api Agustus Tetap Menyala

Kita patut bersyukur karena Indonesia Merdeka bukan hanya karena Perjuangan Fisik, tetapi juga karena “Kekuatan Spiritual, Budaya, dan Persatuan Rakyatnya”. Spirit ini lahir dari akar leluhur : dari “Kerajaan-Kerajaan, Kesultanan, dan Komunitas Mayarakat Adat” yang selama berabad-abad menjaga jati diri bangsa.

Agustus, dengan segala kehangatan dan kemegahannya, adalah “Titik Temu antara Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan”.

BACA JUGA:  Kadiv Propam Polri dan Bid Propam Polda Sulbar Salurkan Bantuan Sembako untuk Anak Yatim di Mamuju

Kita tinggal memilih : menjadi penonton yang larut dalam euforia, atau menjadi pelaku sejarah baru yang menjaga api semangat bangsa agar tetap menyala, di setiap langkah, di setiap usia, di setiap hati yang mencintai Indonesia sepenuhnya.

Dirgahayu Republik Indonesia. Dirgahayu untuk semua jiwa yang lahir di bulan Agustus. Mari terus Menyala dalam Pengabdian, Seumur Hidup untuk Negeri.
Merdeka! (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.