Rindu Menyala di Bulan Kemerdekaan RI: Refleksi Budaya, Persatuan Bangsa, dan yang Lahir di Bulan Agustus

oleh
Oleh : Sjahrir Tamsi

EKSPOSSULBAR.CO.ID — Agustus selalu membawa nuansa yang berbeda. Langit seakan lebih biru, Merah Putih berkibar di setiap penjuru, dan semangat bangsa terasa lebih membuncah.

Di bulan ini, kita memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, sebuah momen sakral yang bukan hanya mengingatkan kita pada tanggal 17 Agustus 1945, tetapi juga menggugah kembali “Rasa Cinta Tanah Air Indonesia yang mungkin sempat meredup di tengah kesibukan zaman.

Bagi sebagian orang, termasuk Penulis merupakan pribadi yang lahir pada Sabtu, 8 Agustus 1964, bulan Agustus bukan hanya soal Negara, tetapi juga soal Perjalanan Hidup Pribadi. Ada rasa syukur yang mendalam karena bisa tumbuh dan hidup dalam “Suasana Merdeka”, serta bisa ikut menjadi bagian dari “Perjuangan Kebudayaan dan Pendidikan Bangsa ini melalui Pemikiran dan Pengabdian”.

BACA JUGA:  Sulbar Susun Peta Kerawanan Pangan (FSVA), Perkuat Ketahanan Pangan sesuai Visi Misi SDK-JSM

Mereka yang lahir di bulan Agustus seringkali merasa memiliki ikatan batin yang kuat dengan semangat kemerdekaan. Seolah-olah ruh para pendiri bangsa ikut bersemayam dalam semangat mereka : “Mencintai Negeri dengan Sepenuh Hati, terus Berjuang walau dalam Senyap, dan Tak Pernah Menyerah pada Keadaan”.

Agustus: Bukan Sekadar Peringatan, Tapi Penyatuan Jiwa Bangsa

Peringatan HUT RI setiap tahun adalah momen yang merangkul seluruh lapisan masyarakat, dari “Pelosok Desa hingga Ibu Kota”. Di sinilah “Semangat Persatuan dan Kebersamaan” benar-benar terasa. Kita melupakan sejenak segala perbedaan dan bersatu dalam satu semangat kebangsaan. Seperti “Anyaman Kain Adat dari berbagai Suku Bangsa di Nusantara yang Berbeda Warna, tetapi Menguatkan Satu Sama Lain dalam Harmoni”.

BACA JUGA:  Gubernur Suhardi Duka Hadiri Rakernis Ketransmigrasian Nasional, Sulbar Siap Jadi Pilot Project Transmigrasi Modern

Perayaan ini juga menjadi “Waktu yang Tepat untuk Mengenang Jasa para Pahlawan”. Kita diingatkan pada keberanian mereka, pada “Peluh dan Darah” yang mereka korbankan, bukan untuk dikenang semata, tapi untuk dilanjutkan.

Dari Sultan Hasanuddin di Timur Indonesia, hingga Cut Nyak Dhien di wilayah Barat Indonesia, Ibu Agung Hj. Andi Depu dari Tanah Mandar Sulawesi Barat dan Pangeran Antasari di Kalimantan, Pangeran Diponegoro dari Jawa serta Kapiten Pattimura dari Maluku, mereka semua adalah wajah-wajah perjuangan yang diwariskan kepada kita bukan hanya sebagai cerita, tetapi sebagai “Nilai Hidup”.

BACA JUGA:  Plt Kadis Perkebunan Sulbar Pantau Penerapan Harga dan Proses Pengolahan TBS Kelapa Sawit pada Sejumlah PKS di Pasangkayu

Kemeriahan yang Bukan Sekadar Seremonial

Peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI tak pernah lepas dari kemeriahan seperti; Lomba Panjat Pinang, Pawai Budaya, hingga Parade Merah Putih di jalanan. Namun yang lebih penting, momen ini adalah “Ruang Ekspresi Kebudayaan” yang harus terus dijaga.

No More Posts Available.

No more pages to load.