Dua tempat tersebut diinisiasi seorang perempuan tuna rungu Ramlahl yang juga menjabat sebagai Pembina DPD Gerakan Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (GERKATIN) Sulsel.
Ramlah menceritakan perjuangannya membangun usaha sejak 2010, dari menitip donat di warung kecil hingga kini mempekerjakan delapan karyawan tuna rungu dengan omzet harian berkisar Rp3 juta.
Usahanya semakin meningkat setelah mendapatkan dukungan fasilitas rebranding dari pemerintah. Bahkan beberapa mantan karyawannya telah membuka usaha sendiri.
“Dulu saya hanya jualan dari warung ke warung. Tapi setelah rebranding, usaha saya berkembang. Sekarang saya juga mendirikan Rumah Qur’an untuk teman tuli agar bisa belajar mengaji,” beber Ramlah melalui juru bahasa isyarat.
Sementara itu, Ketua DPD GERKATIN Sulsel, Andi Arfan, menyoroti masih minimnya akses JBI di ruang-ruang publik. “Kami butuh juru bahasa isyarat agar bisa mengikuti semua kegiatan dengan utuh,” jelasnya. (*)