Dukung Festival Sungai Tubo-Salutambung, Gubernur SDK: Pembangunan Harus Selaras Kelestarian Lingkungan dan Keluhuran Budaya

oleh

Ia juga mengutip filosofi warisan leluhur Mandar: “Ma’dodo litak, ma’puhewa waie” – tanah adalah sarungmu, air adalah bajumu. “Artinya, merusak alam sama saja dengan menelanjangi diri sendiri dan mencederai kehormatan yang diwariskan para leluhur,” tambahnya.

Rachmad menyinggung bahwa wilayah Tubo dahulu dikenal sebagai “Daeng Mattayang” – Sang Penjaga. Menurutnya, semangat itu harus terus dijaga bersama.

BACA JUGA:  Kejurnas Bridge ke-60 Dibuka di Mamuju 17-26 September 2026, Gubernur SDK Harap Jadi Ajang Regenerasi

“Gubernur menegaskan, pembangunan ekonomi di Sulbar tidak boleh bertentangan dengan kelestarian lingkungan dan kebudayaan. Pertumbuhan yang merusak alam sama dengan menciptakan bencana masa depan,” tegasnya.

Ia memastikan bahwa seluruh ide dan pemikiran yang muncul dari FESTA akan menjadi bahan evaluasi serius dalam pengambilan kebijakan pemerintah provinsi, khususnya terkait lingkungan hidup.

BACA JUGA:  Dispoparekraf Sulbar Buka Seleksi PPAN 2026, Pemuda Berpeluang Ikuti SSEAYP

“Festival ini bukan sekadar selebrasi, tapi menjadi tonggak solidaritas dan keberpihakan kepada alam. Mari kita rapatkan barisan dan satukan langkah menjaga masa depan,” pungkasnya. (rls/*)

No More Posts Available.

No more pages to load.