“Salah satu penyebar Islam di Mamuju, cucunya sekarang tinggal di Jalan Somba Opu, Makassar. Mereka berasal dari Gujarat, selain yang datang dari Timur Tengah,” jelasnya.
Salim juga membagikan kisah pertemuannya dengan ulama karismatik almarhum KH Maimun Zubair (Mbah Moen), yang mengenang seorang ulama asal Sulbar bernama Kiai Saleh.
“Waktu saya bertemu beliau, beliau bertanya apakah saya kenal dengan Kiai Saleh. Beliau bilang, ‘Beliau itu dulu pernah mengajar saya di Mekah.’ Saya jawab, beliau sudah wafat, Pak Kiai,” kenangnya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa dulunya, masyarakat Sulbar yang ingin memperdalam ilmu agama tidak pergi ke Jawa, tetapi langsung ke Mekah. Bahkan, pernah ada orang Sulbar yang menjadi imam di Masjidil Haram.
“Ini kebanggaan kita bersama. Karena itu, anak-anakku peserta STQH, teruslah tempa diri dengan baik agar Sulbar bisa kembali menghasilkan pembaca Al-Qur’an dan penghafal Hadist yang unggul, serta ulama-ulama yang bisa diandalkan membangun daerah ini,” tuturnya.
Salim pun berharap, prestasi saat ini menjadi fondasi untuk mengembangkan Sulbar ke arah yang lebih baik, dan melahirkan generasi muda yang unggul di masa depan.
“Semoga apa yang saya sampaikan menjadi bekal untuk kita semua dalam membangun Sulbar yang lebih baik,” harapnya.
Ia menegaskan bahwa menghafal Al-Qur’an dan Hadis belumlah cukup jika tidak dibarengi dengan pengamalan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.
“Yang terpenting dari agama adalah bagaimana kita menerapkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan. Itulah kunci utama dalam membangun bangsa ini,” pungkasnya. (rls/*)










